Posts Tagged ‘Kelebihan – Kelebihan Agama Islam’

[QuickPress] Kegawatan Di Padang Mahsyar

Friday, April 20th, 2012

Siri Khutbah Jumaat.

Muslimin Yang di Rahmati Allah,

Di kesempatan berada pada hari Jumaat dan di atas masjid yang mulia ini, saya berpesan kepada diri saya dan kepada sidang Jumaat sekalian marilah sama-sama kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan bersungguh-sungguh melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Mudah-mudahan kita memperolehi keberkatan dan keredhaan serta perlindungan Allah SWT di dunia dan di akhirat. Mimbar pada hari ini akan menyampaikan khutbah bertajuk : ” KEGAWATAN DI PADANG MAHSYAR “

Muslimin Yang di Rahmati Allah,

Makhluk dan alam luas ciptaan Allah SWT akan tiba masanya menempuh saat kemusnahan dan kehancuran. Lihatlah tumbuh-tumbuhan yang menghijau di sekeliling kita akhirnya akan kuning layu, besi yang keras akan berkarat dan menjadi reput, makanan dan lauk pauk yang segar menjadi basi, anak-anak remaja akan pudar kejelitaan dan ketampanannya dimamah oleh usia tua, akhirnya menemui ajal. Dunia yang kita duduki dan diami pada hari ini pun juga semakin tua. Suasana yang berlaku ini bukanlah terjadi secara kebetulan tetapi suatu perkhabaran dan petanda-petanda awal bahawa seluruh ciptaan Allah SWT akan menemui ajalnya pada suatu detik yang dinamakan kiamat.

Tiupan sangka kala pertama bermulanya kiamat. Manakala tiupan sangka kala yang kedua menandakan kebangkitan manusia yang mati sejak zaman nabi Adam AS sehingga manusia terakhir ketika berlaku kiamat. Roh dan tubuh badan manusia yang berpisah ketika di alam barzakh bercantum semula hingga lengkap seperti tubuh kita sebelum mati untuk menghadapi hari pengadilan. Kedahsyatan kiamat ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam Surah at-Takwir ayat 1-3 :

Maksudnya :

” Apabila matahari dilingkari cahayanya (dan hilang lenyap). Dan apabila bintang-bintang gugur berselerak Dan apabila gunung-ganang diterbangkan ke angkasa (setelah dihancurkan menjadi debu”.

(more…)

Popularity: 1% [?]

0

Memilih Kawan Yang Baik

Thursday, April 19th, 2012

” Seseorang berada di atas agama kawannya.”

Demikian pesan Nabi kita.

Kenapa ya ?

Kita sangat terkesan dengan cara hidup siapa yang menjadi pendamping kita. Kita selalu cuba untuk memenuhi kepuasannya agar diri kita diterima sebagai kawannya.

Maka, Carilah kawan baik yang cara hidupnya selari dengan petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. Carilah kawan baik yang kepuasan hidupnya diletakkan dengan memuaskan kehendak Allah.

Nak cari di mana ? Hmm, memang susah nak cari. Mudahnya, kita jadilah kawan yang terbaik untuk siapa sahaja yang hadir sebagai ‘kawan’ dalam hidup kita. Sayangi mereka. Tunjukkan mereka contoh terbaik. Disebabkan mereka ‘istimewa’lah, Allah jumpakan kita dengan mereka. Jom, hargai kawan-kawan di sekeliling kita hari ini juga.

Bagaimana menghargai ? Oh ! Anda jauh lebih kreatif daripada saya. Jika tiada kreativiti, mintalah idea daripada Allah yang Maha Kreatif, sumber inovasi kita semua. Serulah nama-nama-Nya yang kreatif, Ya Kholiq, Ya Musowwir, Ya Badi’.

Terasa kreativiti-Nya sangat dekat, kan ?

Kalau kawan tu tak beragama, macam mana ? Berkawanlah dengan sesiapa sahaja. Namun untuk mengangkat seseorang sebagai ‘kawan baik’, perhatikanlah sungguh-sungguh agamanya.

Apa kata ulama yang kita sayangi ?

Di dalam kitab Hidayatul Salikin, Imam Ghazali ada menyatakan : ” Hendaklah kita memilih sahabat dengan 5 syarat.”

Syarat-syaratnya ialah :

1. Orang yang berakal : Berkawan dengan orang yang jahil akan menimbulkan persengketaan.

2. Baik dari segi peribadi dan akhlaknya: Elakkan bersahabat dengan orang yang jahat dan buruk perangainya kerana ianya akan mempengaruhi kita.

3. Orang yang soleh : Jangan berkawan dengan orang yang fasik kerana ianya akan sentiasa mengekalkan dosa yang besar dan kecil.

4. Jangan berkawan dengan orang yang sangat kasih pada dunia : Kasih pada dunia di sini bermaksud sesuatu perkara yang bertentangan dengan suruhan Allah. Jika berkawan dengan orang yang sebegini, dia akan terikut-ikut dengan tabiat rakannya.

5. Orang yang benar perkataannya : Janganlah suka berkawan dengan orang yang suka berdusta. Orang yang suka berdusta itu tidak dapat dipercayai agama dan dunianya. Demikian itu akan membawa kepada kebinasaan dunia.

Popularity: 1% [?]

0

[Video] Warga Amerika (Buta) Memeluk Islam Setelah Mendengar Al-Quran

Monday, April 16th, 2012


 

Nota :

Kenapa kita tidak sebarkan kepada golongan mereka yang buta dengan Al-Quran dan terjemahan bertulisan braille.

Betapa luasnya peluang kita untuk menduduki Syurga Allah SWT- SubhanAllah.

 


Popularity: 1% [?]

0

[Video] Memeluk Islam Melalui Siaran Langsung

Sunday, April 15th, 2012

 

Nota :

Betapa luasnya Rahmat dan Hidayah Allah SWT di zaman ini, Islam boleh disebarkan dengan begitu cepat dan alam semesta menjadi saksi pengIslaman mereka.

Sesungguhnya kemudahan IT dan Teknologi boleh menggandakan pahala orang-orang Mukmin di zaman moden sebegini jika Nikmat IT dan Nikmat Teknologi disebarkan bersama Cahaya Keimanan Kepada Allah SWT- SubhanAllah.


Popularity: 1% [?]

0

Wordless Wednesday #20 : Grand Mosque Abu Dhabi, UAE

Wednesday, April 11th, 2012

On Wednesdays all over the internet, bloggers post a photograph with no words to explain it on their blog. Hence the ‘wordless’ title. The idea is that the photo itself says so much that it doesn’t need any description.Answers.com

Popularity: 1% [?]

0

3 Perhiasan Syaitan Pada Orang Kaya

Monday, April 9th, 2012

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Syaitan laknatullah berkata : “ Orang kaya tidak dapat selamat dari tiga macam iaitu :

  • Saya perhias didalam pandangannya sehingga tidak dikeluarkan kewajipannya atau
  • Saya ringankan tangannya sehingga dikeluarkan tidak pada tempatnya atau
  • Saya cintakan dalam hatinya sehingga ia berusaha mendapatkannya walau tidak halal

 

Popularity: 1% [?]

2

[QuickPress] Balasan Yang Amat Besar Buat Mereka Yang Sabar

Sunday, April 8th, 2012

Surah Az-Zumar , Ayat : 10.

Katakanlah : “ Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu ”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Popularity: 1% [?]

0

[QuickPress] 10 Perkara Yang Akan Menipu Alim Ulamak

Saturday, April 7th, 2012

Kalangan Ulama ini ada beberapa golongan. Salah satu golongan dari mereka, adalah kalangan yang terlalu mendalami ilmu-ilmu syari’at dan ilmu-ilmu rasionaI. Mereka sibuk dengan disiplin tersebut, namun mengabaikan penjagaan dirinya dari tindakan maksiat dan mengabaikan ketaatan. Mereka terpedaya oleh ilmunya sendiri. Anehnya, mereka menyangka memiliki posisi di hadapan Allah swt. Bahkan mereka berasumsi bahwa Allah tidak akan menyiksanya, karena ilmunya telah mencapai suatu tahap tertentu. Mereka merasa bisa memberi syafaat terhadap orang lain, dan mereka tidak terkena tuntutan dosa dan kesalahannya. Mereka sebenarnya tertipu.

Kalau saja mereka mau melihat dengan mata hati, pasti mereka akan menemukan titik pandang bahawa ilmu itu terbagi menjadi dua :

Ilmu Muamalat dan Ilmu Mukasyafah, yaitu pengetahuan terhadap Allah swt. dan Sifat-sifat-Nya.

Sementara Ilmu Muamalat berfungsi sebagai komplementer hikmah yang dituju, yaitu pengetahuan tentang halal dan haram, pengetahuan etika jiwa yang tercela dan terpuji.Mereka itu seperti seorang dokter yang mampu mengobati orang lain, sedangkan ia sendiri ketika sakit sebenarnya mampu mengobati dirinya sendiri, tetapi hal itu tidak dilakukan. Lalu apa gunanya pengobatan tersebut? Sungguh jauh dari harapan, di mana terapi tidak akan bermanfaat kecuali orang yang mau meminum obat tersebut setelah merasakan demam. Mereka melupakan firman Allah swt.:“Sungguh benar-benar berbahagia orang yang menyucikan jiwa dan benar-benar merugi orang yang mengotorinya”. (Q.S. asy-Sayms: 9-10).

Allah tidak berfirman, “Barangsiapa yang mengetahui penyucian jiwa dan menulis ilmunya, serta mengajarkannya kepada manusia”.Mereka pun alpa terhadap sabda Nabi saw.: “Barangsiapa bertambah ilmunya dan tidak tambah hidayahnya, maka tidak akan bertambah dari Allah kecuali jauh dari-Nya”.

“Sesungguhnya orang yang paling tersiksa di hari Kiamat adalah seorang ilmuwan yang tidak diberi oleh Allah kemanfaatan atas ilmunya”.

Dan hadis-hadis lainnya yang sepadan. Mereka itu adalah para Ulama yang tertimpa tipudayanya sendiri, dan semoga Allah menjaga kita dari tingkah laku mereka. Mereka sebenarnya terhimpit oleh kecintaan duniawi, egoisme dan mencari kemudahan dunia saja, sembari berangan-angan bahwa ilmunya mampu menyelamatkan dirinya di akhirat tanpa harus beramal.

Kelompok Pertama.

Sedangkan kelompok Ulama lainnya menekuni ilmunya dan amal-amal lahiriah, meninggalkan maksiat-maksiat lahiriah, namun alpa dengan kondisi ruhani jiwanya. Mereka tidak mau menghapus sifat-sifat tercelanya di hadapan Allah swt. seperti: sombong, riya’, dengki, ambisi posisi dan status, berhasrat buruk kepada sesama teman, mencari popularitas di tengah-tengah negeri dan penduduknya.

Semua itu merupakan tipudaya, yang disebabkan oleh kealpaannya terhadap hadis Nabi saw.:

“Riya’ adalah syirik kecil”.

“Dengki itu memakan kebaikan seperti api menghanguskan kayu kering”.

“Cinta harta dan kemuliaan bisa menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air menumbuhkan sayur mayur”.Dan hadis-hadis lainnya.

Mereka pun melupakan firman Allah swt.:“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (Q.S. asy-Syu’ara’: 89).

Mereka alpa hatinya dan cukup dengan kesibukan amal lahiriah belaka. Padahal yang hatinya tidak patuh, tidak akan sah taatnya. Ia ibarat orang berpenyakit kudis, lantas dokter memerintahkan untuk mengoleskan dan meminum obat, tetapi ia hanya sibuk mengoleskan kulit luar saja, tanpa meminum obat. Akhirnya, penyakit luar hilang tetapi penyakit dalamnya masih bercokol. Padahal akar penyakit itu justru dari dalam, karenanya semakin bertambahlah penyakit dalamnya. Seandainya sumber penyakit dari dalam hilang, pasti yang di luar semakin ringan. Begitu pula kotoran-kotoran manakala bertengger dalam hati, akan tampak pengaruhnya pada fisik.

Kelompok Kedua.

Sekelompok Ulama lain mengenal etika batin dan mengetahui bahwa pelanggaran tersebut dicaci oleh syari’at. Hanya saja, karena mereka terlalu berbangga dan kagum pada diri sendiri, mereka menduga dirinya lepas dari cacian tersebut. Di sisi Allah, menurut mereka, telah bebas dari cobaan seperti itu. Mereka yang dicaci adalah kalangan awam, bukan pada pihak yang telah sampat pada taraf ilmu pengetahuan. Sementara mereka kalangan Ulama merasa bebas dari sanksi tersebut, sehingga mereka terjerumus dalam khayalan kebesaran dan jenjang tahta, ambisi keluhuran dan kehormatan, dan mereka tertipu oleh dugaan mereka sendiri, bahwa cara yang mereka tempuh itu bukan sebagai tindak kesombongan. Mereka beralasan apa yang dilakukan, sebagai upaya memuliakan agama, menampakkan kemuliaan pengetahuan dan membantu agama Allah. Mereka Iupa pesta iblis karena tindakan mereka itu, mereka juga alpa bagaimana sebenarnya kontribusi Nabi Saww. dan bagaimana kehinaan orang-orang kafir.

Mereka juga lupa, bagaimana para sahabat bertawadhu’, merasa rendah hati, miskin dan tempat tinggal apa adanya. Sehingga Umar bin Khaththab r.a. pernah dikritik karena pakaiannya yang lusuh setibanya di Syam. Lalu Umar berkata, “Kami adalah kaum dimana Allah meninggikan kami dengan Islam. Kami tidak mencari kemuliaan selain Islam.”

Kemudian tipudaya lain, memakai pakaian kebesaran untuk meraih kemuliaan agama, dan ia menduga bahwa dirinya memuliakan ilmu dan menghormati agama dengan tindakannya. Ketika mereka membahas rasa dengki teman-temannya atau mereka yang kontra terhadap ucapannya, ia tidak menduga bahwa tindakannya itu pun merupakan kedengkian pula. Lantas ia berkelit, “Ini merupakan kemarahan demi kebenaran, mengkounter orang batil yang dilakukan melalui permusuhan dan kezalimannya.” Tentu tindakannya merupakan tipudaya. Sebab manakala ia menusuk sesama temannya melalui kritiknya, kadang-kadang ia melontarkan bukan dengan amarah, tetapi dengan rasa gembira karena mampu mengkounter temannya.

Kalau di hadapan manusia ia tampak marah, padahal hatinya gembira. Terkadang lontarannya sebagai pamer pengetahuan, sembari berucap, “Tujuan saya, sebenarnya memberi kontribusi faedah kepada manusia,” padahal ucapannya itu didasari riya’. Sebab bila tujuannya untuk membuat kebajikan kepada manusia, tentu ia pasti lebih senang bila tindakannya itu dilakukan oleh orang lain yang sepadan atau di atasnya, bahkan orang yang ada di bawahnya.Kadang-kadang ketika memasuki rumah para penguasa, ia memuji-muji dan menampakkan kecintaannya. Ketika ditanya soal tindakannya itu, ia menjawab, “Tujuan saya adalah untuk kemanfaatan bersama ummat Islam, dan menolak bahaya dari penguasa itu.” Padahal ia terkena tipudayanya sendiri. Tentunya, bila memang demikian tujuannya, pasti ia akan senang bila yang melakukan itu orang lain. Seandainya ada seseorang yang berkenan dan sukses perannya di hadapan penguasa, ia justru emosi pada tindakan orang lain itu.

Ketika ia bisa meraih harta dari penguasa, lantas muncul di benaknya bahwa harta itu haram, tiba-tiba syetan berbisik, “Ini harta tanpa pemilik, bisa dipakai untuk kemaslahatan ummat Islam. Andakan pemuka ummat dan pakar nereka. Karena Andalah agama ini bisa tegak.”Di sini ada tiga tipudaya: Pertama, bahwa ada harta yang tidak ada pemiliknya. Kedua, demi kemaslahatan ummat Islam. Ketiga, ia adalah pemuka ummat.

Lantas apakah ada seorang pemuka (Imam) kecuali orang yang menolak duniawi seperti para Nabi, para sahabat dan Ulama-ulama ummat yang utama? Dan sepadan mereka, sebagaimana Isa as. berkata, “Seorang alim yang buruk ibarat batu di pinggir jurang, tidak mencerap air tidak pula memancarkan air” yang dialirkan ke pertanian.” Kalangan pakar ilmu pengetahuan ataupun Ulama, banyak yang terpedaya, dan tindakan destruktifnya lebih banyak dibanding reformasi kebajikannya.

(more…)

Popularity: 1% [?]

0

side digi award 120 Banner