Posts Tagged ‘Allah Maha Besar’

[Video] Memeluk Islam Melalui Siaran Langsung

Sunday, April 15th, 2012

 

Nota :

Betapa luasnya Rahmat dan Hidayah Allah SWT di zaman ini, Islam boleh disebarkan dengan begitu cepat dan alam semesta menjadi saksi pengIslaman mereka.

Sesungguhnya kemudahan IT dan Teknologi boleh menggandakan pahala orang-orang Mukmin di zaman moden sebegini jika Nikmat IT dan Nikmat Teknologi disebarkan bersama Cahaya Keimanan Kepada Allah SWT- SubhanAllah.


Popularity: 1% [?]

0

3 Perhiasan Syaitan Pada Orang Kaya

Monday, April 9th, 2012

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Syaitan laknatullah berkata : “ Orang kaya tidak dapat selamat dari tiga macam iaitu :

  • Saya perhias didalam pandangannya sehingga tidak dikeluarkan kewajipannya atau
  • Saya ringankan tangannya sehingga dikeluarkan tidak pada tempatnya atau
  • Saya cintakan dalam hatinya sehingga ia berusaha mendapatkannya walau tidak halal

 

Popularity: 1% [?]

2

[QuickPress] Balasan Yang Amat Besar Buat Mereka Yang Sabar

Sunday, April 8th, 2012

Surah Az-Zumar , Ayat : 10.

Katakanlah : “ Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu ”. orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Popularity: 1% [?]

0

[QuickPress] 10 Perkara Yang Akan Menipu Alim Ulamak

Saturday, April 7th, 2012

Kalangan Ulama ini ada beberapa golongan. Salah satu golongan dari mereka, adalah kalangan yang terlalu mendalami ilmu-ilmu syari’at dan ilmu-ilmu rasionaI. Mereka sibuk dengan disiplin tersebut, namun mengabaikan penjagaan dirinya dari tindakan maksiat dan mengabaikan ketaatan. Mereka terpedaya oleh ilmunya sendiri. Anehnya, mereka menyangka memiliki posisi di hadapan Allah swt. Bahkan mereka berasumsi bahwa Allah tidak akan menyiksanya, karena ilmunya telah mencapai suatu tahap tertentu. Mereka merasa bisa memberi syafaat terhadap orang lain, dan mereka tidak terkena tuntutan dosa dan kesalahannya. Mereka sebenarnya tertipu.

Kalau saja mereka mau melihat dengan mata hati, pasti mereka akan menemukan titik pandang bahawa ilmu itu terbagi menjadi dua :

Ilmu Muamalat dan Ilmu Mukasyafah, yaitu pengetahuan terhadap Allah swt. dan Sifat-sifat-Nya.

Sementara Ilmu Muamalat berfungsi sebagai komplementer hikmah yang dituju, yaitu pengetahuan tentang halal dan haram, pengetahuan etika jiwa yang tercela dan terpuji.Mereka itu seperti seorang dokter yang mampu mengobati orang lain, sedangkan ia sendiri ketika sakit sebenarnya mampu mengobati dirinya sendiri, tetapi hal itu tidak dilakukan. Lalu apa gunanya pengobatan tersebut? Sungguh jauh dari harapan, di mana terapi tidak akan bermanfaat kecuali orang yang mau meminum obat tersebut setelah merasakan demam. Mereka melupakan firman Allah swt.:“Sungguh benar-benar berbahagia orang yang menyucikan jiwa dan benar-benar merugi orang yang mengotorinya”. (Q.S. asy-Sayms: 9-10).

Allah tidak berfirman, “Barangsiapa yang mengetahui penyucian jiwa dan menulis ilmunya, serta mengajarkannya kepada manusia”.Mereka pun alpa terhadap sabda Nabi saw.: “Barangsiapa bertambah ilmunya dan tidak tambah hidayahnya, maka tidak akan bertambah dari Allah kecuali jauh dari-Nya”.

“Sesungguhnya orang yang paling tersiksa di hari Kiamat adalah seorang ilmuwan yang tidak diberi oleh Allah kemanfaatan atas ilmunya”.

Dan hadis-hadis lainnya yang sepadan. Mereka itu adalah para Ulama yang tertimpa tipudayanya sendiri, dan semoga Allah menjaga kita dari tingkah laku mereka. Mereka sebenarnya terhimpit oleh kecintaan duniawi, egoisme dan mencari kemudahan dunia saja, sembari berangan-angan bahwa ilmunya mampu menyelamatkan dirinya di akhirat tanpa harus beramal.

Kelompok Pertama.

Sedangkan kelompok Ulama lainnya menekuni ilmunya dan amal-amal lahiriah, meninggalkan maksiat-maksiat lahiriah, namun alpa dengan kondisi ruhani jiwanya. Mereka tidak mau menghapus sifat-sifat tercelanya di hadapan Allah swt. seperti: sombong, riya’, dengki, ambisi posisi dan status, berhasrat buruk kepada sesama teman, mencari popularitas di tengah-tengah negeri dan penduduknya.

Semua itu merupakan tipudaya, yang disebabkan oleh kealpaannya terhadap hadis Nabi saw.:

“Riya’ adalah syirik kecil”.

“Dengki itu memakan kebaikan seperti api menghanguskan kayu kering”.

“Cinta harta dan kemuliaan bisa menimbulkan kemunafikan dalam hati, seperti air menumbuhkan sayur mayur”.Dan hadis-hadis lainnya.

Mereka pun melupakan firman Allah swt.:“Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (Q.S. asy-Syu’ara’: 89).

Mereka alpa hatinya dan cukup dengan kesibukan amal lahiriah belaka. Padahal yang hatinya tidak patuh, tidak akan sah taatnya. Ia ibarat orang berpenyakit kudis, lantas dokter memerintahkan untuk mengoleskan dan meminum obat, tetapi ia hanya sibuk mengoleskan kulit luar saja, tanpa meminum obat. Akhirnya, penyakit luar hilang tetapi penyakit dalamnya masih bercokol. Padahal akar penyakit itu justru dari dalam, karenanya semakin bertambahlah penyakit dalamnya. Seandainya sumber penyakit dari dalam hilang, pasti yang di luar semakin ringan. Begitu pula kotoran-kotoran manakala bertengger dalam hati, akan tampak pengaruhnya pada fisik.

Kelompok Kedua.

Sekelompok Ulama lain mengenal etika batin dan mengetahui bahwa pelanggaran tersebut dicaci oleh syari’at. Hanya saja, karena mereka terlalu berbangga dan kagum pada diri sendiri, mereka menduga dirinya lepas dari cacian tersebut. Di sisi Allah, menurut mereka, telah bebas dari cobaan seperti itu. Mereka yang dicaci adalah kalangan awam, bukan pada pihak yang telah sampat pada taraf ilmu pengetahuan. Sementara mereka kalangan Ulama merasa bebas dari sanksi tersebut, sehingga mereka terjerumus dalam khayalan kebesaran dan jenjang tahta, ambisi keluhuran dan kehormatan, dan mereka tertipu oleh dugaan mereka sendiri, bahwa cara yang mereka tempuh itu bukan sebagai tindak kesombongan. Mereka beralasan apa yang dilakukan, sebagai upaya memuliakan agama, menampakkan kemuliaan pengetahuan dan membantu agama Allah. Mereka Iupa pesta iblis karena tindakan mereka itu, mereka juga alpa bagaimana sebenarnya kontribusi Nabi Saww. dan bagaimana kehinaan orang-orang kafir.

Mereka juga lupa, bagaimana para sahabat bertawadhu’, merasa rendah hati, miskin dan tempat tinggal apa adanya. Sehingga Umar bin Khaththab r.a. pernah dikritik karena pakaiannya yang lusuh setibanya di Syam. Lalu Umar berkata, “Kami adalah kaum dimana Allah meninggikan kami dengan Islam. Kami tidak mencari kemuliaan selain Islam.”

Kemudian tipudaya lain, memakai pakaian kebesaran untuk meraih kemuliaan agama, dan ia menduga bahwa dirinya memuliakan ilmu dan menghormati agama dengan tindakannya. Ketika mereka membahas rasa dengki teman-temannya atau mereka yang kontra terhadap ucapannya, ia tidak menduga bahwa tindakannya itu pun merupakan kedengkian pula. Lantas ia berkelit, “Ini merupakan kemarahan demi kebenaran, mengkounter orang batil yang dilakukan melalui permusuhan dan kezalimannya.” Tentu tindakannya merupakan tipudaya. Sebab manakala ia menusuk sesama temannya melalui kritiknya, kadang-kadang ia melontarkan bukan dengan amarah, tetapi dengan rasa gembira karena mampu mengkounter temannya.

Kalau di hadapan manusia ia tampak marah, padahal hatinya gembira. Terkadang lontarannya sebagai pamer pengetahuan, sembari berucap, “Tujuan saya, sebenarnya memberi kontribusi faedah kepada manusia,” padahal ucapannya itu didasari riya’. Sebab bila tujuannya untuk membuat kebajikan kepada manusia, tentu ia pasti lebih senang bila tindakannya itu dilakukan oleh orang lain yang sepadan atau di atasnya, bahkan orang yang ada di bawahnya.Kadang-kadang ketika memasuki rumah para penguasa, ia memuji-muji dan menampakkan kecintaannya. Ketika ditanya soal tindakannya itu, ia menjawab, “Tujuan saya adalah untuk kemanfaatan bersama ummat Islam, dan menolak bahaya dari penguasa itu.” Padahal ia terkena tipudayanya sendiri. Tentunya, bila memang demikian tujuannya, pasti ia akan senang bila yang melakukan itu orang lain. Seandainya ada seseorang yang berkenan dan sukses perannya di hadapan penguasa, ia justru emosi pada tindakan orang lain itu.

Ketika ia bisa meraih harta dari penguasa, lantas muncul di benaknya bahwa harta itu haram, tiba-tiba syetan berbisik, “Ini harta tanpa pemilik, bisa dipakai untuk kemaslahatan ummat Islam. Andakan pemuka ummat dan pakar nereka. Karena Andalah agama ini bisa tegak.”Di sini ada tiga tipudaya: Pertama, bahwa ada harta yang tidak ada pemiliknya. Kedua, demi kemaslahatan ummat Islam. Ketiga, ia adalah pemuka ummat.

Lantas apakah ada seorang pemuka (Imam) kecuali orang yang menolak duniawi seperti para Nabi, para sahabat dan Ulama-ulama ummat yang utama? Dan sepadan mereka, sebagaimana Isa as. berkata, “Seorang alim yang buruk ibarat batu di pinggir jurang, tidak mencerap air tidak pula memancarkan air” yang dialirkan ke pertanian.” Kalangan pakar ilmu pengetahuan ataupun Ulama, banyak yang terpedaya, dan tindakan destruktifnya lebih banyak dibanding reformasi kebajikannya.

(more…)

Popularity: 1% [?]

0

[QuickPress] 22 Hadis Berkaitan Dengan Dosa

Thursday, April 5th, 2012

1. Janganlah memandang kecil kesalahan (dosa) tetapi pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai. (HR. Aththusi)

2. Perbuatan dosa mengakibatkan sial terhadap orang yang bukan pelakunya. Kalau dia mencelanya maka bisa terkena ujian (cobaan). Kalau menggunjingnya dia berdosa dan kalau dia menyetujuinya maka seolah-olah dia ikut melakukannya. (HR. Ad-Dailami)

3. Demi yang jiwaku dalam genggamanNya. Tiada dua orang saling mengasihi lalu bertengkar dan berpisah kecuali karena akibat dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya. (HR. Ad-Dailami)

4. Celaka orang yang banyak zikrullah dengan lidahnya tapi bermaksiat terhadap Allah dengan perbuatannya. (HR. Ad-Dailami)

5. Barangsiapa mencari pujian manusia dengan bermaksiat terhadap Allah maka orang-orang yang memujinya akan berbalik mencelanya. (Ibnu Hibban)

6. Tiada sesuatu yang dapat menolak takdir kecuali doa, dan tiada yang dapat menambah umur kecuali amal kebajikan. Sesungguhnya seorang diharamkan rezeki baginya disebabkan dosa yang diperbuatnya. (HR. Tirmidzi dan Al Hakim)

7. Tiada seorang hamba ditimpa musibah baik di atasnya maupun di bawahnya melainkan sebagai akibat dosanya. Sebenarnya Allah telah memaafkan banyak dosa-dosanya. Lalu Rasulullah membacakan ayat 30 dari surat Asy Syuura yang berbunyi : “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Mashabih Assunnah)

8. Apabila suatu kesalahan diperbuat di muka bumi maka orang yang melihatnya dan tidak menyukainya seolah-olah tidak hadir di tempat, dan orang yang tidak melihat terjadinya perbuatan tersebut tapi rela maka seolah-olah dia melihatnya. (HR. Abu Dawud)

9. Barangsiapa meninggalkan maksiat terhadap Allah karena takut kepada Allah maka ia akan memperoleh keridhoan Allah. (HR. Abu Ya’la)

10. Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)

11. Jangan menyiksa dengan siksaan Allah (artinya: menyiksa dengan api). (HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)

12. Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang maka dipercepat tindakan hukuman atas dosanya (di dunia) dan jika Allah menghendaki bagi hambanya keburukan maka disimpan dosanya sampai dia harus menebusnya pada hari kiamat. (HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)

(more…)

Popularity: 1% [?]

0

10 Layanan Allah SWT Terhadap Orang Beriman

Sunday, March 18th, 2012

Barangsiapa yang dikeluarkan daripada kumpulan orang beriman dan pembelaan Allah Ta’ala, maka dia telah kehilangan semua kebaikan yang berkenaan dengan iman, yang telah diatur oleh Allah dalam kitabNya.

Kebaikan itu terdiri dari seratus butir, yang setiap butirnya lebih baik dari dunia dan seisinya. Butiran tersebut akan mendatangkan ;
1 . Pahala yang besar.
“Dan Allah akan memberi orang-orang yang beriman pahala yang amat besar.” (Surah An-Nisa’ : Ayat 146)

2. Mendapat pembelaan.

“Sesungguhnya Allah akan membela mereka yang beriman.” (Surah Al-Hajj : Ayat 38)

3. Didoakan oleh para malaikat
“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohon ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala.” (Surah Al-Mukmin : Ayat 7)

4. Mendapat pertolongan dari Allah.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman …….” (Surah Al-Baqarah : Ayat 257)

5. Mendapat sokongan para malaikat.

“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman,” …….” (Surah Al-Anfaal : Ayat 12)

Popularity: 2% [?]

2

[QuickPress] Ketentuan Ilahi (Qadha’ Dan Qadar)

Friday, March 16th, 2012

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah,

Saya menyeru agar kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.

Marilah kita memperbanyakkan zikir kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan memperbanyakkan selawat serta berusaha melaksanakan segala sunnah Rasulullah s.a.w. mudah-mudahan
ianya akan memberikan manfaat kepada kita di dunia dan di akhirat. Sidang Jumaat yang dirahmati Allah sekalian,

Allah Subhanahu Wata’ala telah menciptakan Adam Alaihis-Salam dan makhluk-makhluk yang lain menurut ketetapan dan ketentuan-Nya. Firman Allah dalam surah Al-Furqaan ayat 2 :

” Tuhan yang menguasai pemerintahan langit dan bumi dan yang tidak mempunyai anak serta tidak mempunyai sebarang sekutu dalam pemerintahan-Nya dan Dialah yang menciptakan setiap sesuatu lalu menentukan keadaan makhluk-makhluk itu dengan ketentuan takdir yang sempurna “.

Kita sebagai makhluk-Nya wajib meyakini tentang qadha’ dan qadar Allah Subhanahu Wata’ala sebagaimana terkandung di dalam rukun iman yang enam.

Beriman kepada qadha’ dan qadar ertinya kita percaya dan yakin dengan sapenuh hati bahawa Allah Subhanahu Wata’ala telah menentukan tentang segala sesuatu bagi makhluk-Nya .

Sidang Jumaat yang dirahmati Allah sekalian,

Di dalam Masyarakat Melayu kita istilah qadha’ dan qadar kadangkala disebut dengan “Takdir Tuhan” atau “Ketentuan Tuhan”. Kedua-duanya memberi maksud qadha’ dan qadar.

Berkaitan dengan qadha’ dan qadar, Rasulullah s.a.w. bersabda di dalam sebuah hadith yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu yang bermaksud :

” Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan menuliskan 4 ketentuan, iaitu tentang rezekinya, ajalnya, amal, perbuatannya, dan (jalan hidupnya) sengsara atau bahagia “.
(Riwayat Bukhari dan Muslim) .

(more…)

Popularity: 2% [?]

0

[QuickPress] 11 Orang Yang Mendapat Doa Malaikat

Wednesday, March 14th, 2012

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu solat.

3. Orang yang berada di saf depan solat berjemaah.

4. Orang yang menyambung saf pada solat berjemaah (tidak membiarkan kekosongan di dalam saf).

5. Kalangan malaikat mengucapkan ‘amin’ ketika seorang imam selesai membaca al-Fatihah.

6. Orang yang duduk di tempat solatnya selepas melakukan solat.

7. Orang yang melakukan solat Subuh dan Asar secara berjemaah.

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa pengetahuan orang yang didoakan.

9. Orang yang membelanjakan harta (infak).

10. Orang yang sedang makan sahur.

11. Orang yang sedang menjenguk (melawat) orang sakit.

Popularity: 2% [?]

0

side digi award 120 Banner